Translate

Kamis, 31 Oktober 2013

STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOK ELIT DALAM PEMBANGUNAN analisis ke 2 (IPB)


Hari, Tanggal  : Senin, 23 September 2013        Nama   :  Siti Umamah Naili Muna
MK. Sosiologi Umum (KPM 130)                    NIM    :  G54130035
                                                                         Asisten :  Reza PN (G24100045)
 

STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOK ELIT DALAM PEMBANGUNAN
Penelitian di Tiga Desa Santri
Oleh : Sunyoto Usman

Dalam sosiologi, elit merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat yang disegani, dihormati, kaya, berkuasa, memiliki kemampuan mengendalikan aktifitas perekonomian dan sangat dominan mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Kelompok elit sangat berpotensi sebagai agen perubahan karena memegang fungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara kemauan pemerintah dan kepentingan anggota masyarakat. Pamong desa, petani kaya,  dan pemuka agama adalah contoh kelompok elit di pedesaan. Sedangkan kelompok mayoritas yang dikuasai  dan didominasi  oleh elit disebut massa (masyarakat).
Dilakukan suatu penelitian yang bertujuan mengidentifikasi struktur sosial elit dalam mengakomodasi implementasi proyek pembangunan pedesaan. Penelitian tiga desa santri di wilayah kabupaten Jombang, Jawa Timur berpusat pada tiga macam proyek pembangunan, yaitu supra insus padi, Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI), dan bantuan desa. Pendekatan yang digunakan untuk mengidentifikasi kelompok elit yaitu positional approach untuk mencari individu-individu yang menempati posisi penting dalam lembaga-lembaga sosial, reputational approach melalui wawancara dengan informan-informan kunci untuk mengklasifikasi tokoh-tokoh yang menjadi panutan dalam masyarakat, dan decisional approach dengan melihat penampilan nyata tokoh-tokoh masyarakat dalam pengambilan keputusan.
Dengan menggunakan tiga pendekatan tersebut, ditemukan 79 elit desa yang terbagi dalam kelompok berikut : 37 pamong desa, 18 pemuka agama, dan 24 petani kaya. Untuk menghitung data dalam penelitian ini digunakan program computer analisis jaringan yang dirancang oleh Robert Kyllberg (1986) yang dapat menunjukkan tingkat jangkauan antar aktor (reachability), jarak hubungan (part distance), dan jumlah klik-klik (cliques).
Satu klik dikonsepsikan sebagai sekelompok kecil elit yang menjalin interaksi lebih intensif dengan elit lain. Hasil penelitian tersebut mengemukakan bahwa kelompok elit pamong desa lebih banyak menjalin interaksi dengan kelompok elit lain dibandingkan dengan kelompok elit petani kaya dan pemuka agama. Ada sejumlah kelompok elit pemuka agama yang terisolir. Kelompok elit pemuka agama memiliki derajat integrasi yang lebih rendah karena mereka kurang menjalin hubungan-hubungan tidak langsung (indirect links) dengan kawan-kawan interaksinya (contactees). Dalam kaitannya dengan implementasi proyek pembangunan, di ketiga desa tersebut hampir tidak terdapat homiphily atau pengelompokan berdasarkan kategori elit. Pemuka agama terkesampingkan.
Dengan demikian, kelompok elit pamong desa mendominasi proses pengambilan keputusan terhadap pelaksanaan proyek pembangunan desa dibandingkan dengan pemuka agama meskipun penelitian diselenggarakan di desa-desa santri.

TOLONG BANTU PERBAIKI PERTANIAN KAMI
Oleh : Muhammad Syaifullah

            Ade Suharso, Kepala Seksi Konservasi TN Kutai wilayah Tanjung Limau, bersama beberapa jagawana mengadakan pertemuan dengan beberapa tokoh masyarakat di Kondolo untuk mengajak lestarikan hutan, yang diikuti Kompas pertengahan September. Kepala Dusun Kandolo, Manap, mengungkapkan bahwa warga-warga terpaksa membuka hutan untuk mempertahankan hidup dengan membuat kayu arang yang harga sekarungnya Rp. 5.000,-. Hal ini karena dua tahun terakhir sawah dilanda kekeringan dan serangan hama tikus. “Kami minta agar ada penyuluhan pertanian membatu mengatasi keadaan ini agar kami kembali ke sawah,” tuturnya. Andi Mappotolo, tokoh masyarakat kandolo, mengatakan bahwa petugas hendaknya tidak melarang warga mencari kayu untuk buat arang. Operasi chainsaw sebaiknya dilihat dulu agar tidak saling bermusuhan.
Tetapi kenyataanya warga menolak keras ajakan petugas jagawana dan memberikan perlawanan. Seperti mendapat ancaman mobil akan warga bakar ketika ingin meluruskan persoalan temuan kayu dengan Kepala Desa Sangkimah. Lalu sampai kegiatan penghijauan penanaman ribuan bibit buah-buahan oleh kalangan pelajar, pramuka, pejabat, dan aparat kemanan yang dipimpin Tonny Suhartono di pindahkan ke kawasan TN Kutai di Sangatta oleh masyarakat Teluk Pandan. Ade mengatakan ini terjadi karena putusnya komunikasi kedua belah pihak. Kemiskinan karena pemerintah minim memperhatikan mereka menjadi salah satu faktor kawasan tidak dipertahankan.
Asumsi ternyata salah. Sekarang yang sulit dikendalikan adalah masyarakat dalam yang tidak tersentuh pembinaan. Orang luar sudah mulai bermukim di hutan. Tidak heran jika puluhan ribu hektar terambah. Kompas menyaksikan, warga yang disebut-sebut mencari kayu arang disepanjang jalan Botang-Sangatta bisa dihitung jari. Tampak aktifitas perkebunan rakyat secara besar-besaran, maraknya penebangan dan pengangkutan kayu-kayu ulin, pengkaplingan lahan dan penguasaan tanah. Tidak hanya rakyat kecil, tetapi juga pemodal dari Sangatta dan Bontang, bahkan ada oknum dari Balikpapan. Oknum Kepala Desa atau Dusun, serta Babinsa setempat juga ikut membagi-bagi lahan. Diperkirakan bersamaan dengan adanya proyek pengaspalan jalan Bontan-Sangatta dan pemasangan tiang listrik. Sasaran kelompok masyarakat untuk mendapat ganti rugi. Ada beberapa kelompok masyarakat pendatang ingin membeli lahan. Tersulit adalah masyarakat dalam yang sering diundang  untuk mencari jalan keluar ikut mempertahankan lahan, tapi juga ikut membuka lahan hutan, tambah lagi menjadi sumber informasi warganya untuk terus merambah.
Menurut Tonny, warga setempat dengan orang luar sudah ada saling kerjasama dalam pembagian lahan TN Kutai. Namun penegakkan hukumnya lemah. PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Badak NGL Co ikut memanfaatkan lahan ini. Menurut Direktur Yayasan Bina Kelola Lingkungan, Adief Mulyadi, persoalan ini tidak bisa dilihat secara parsial. Beban sejak awal tidak adanya sinkronisasi kebijakan soal hutan ini antara pemerintah pusat, Pemda Kutai, dan Pemda Kaltim. Batasan wilayah-wilayah desa yang tidak jelas di kawasan TN Kutai membuat hubungan antara jagawana dengan warga menjadi ada jarak, bahkan tidak jarang saling terjadi berbenturan kepentingan.

ANALISIS
Bacaan 1:
No
Asosiatif / Disosiatif
Individu-Individu
Individu - Kelompok
Kelompok -Kelompok
1
Kerjasama
Tidak ada
Tidak ada
Ada
2
Akomodasi
Tidak ada
Tidak ada
Ada
3
Asimilasi
Tidak ada
Tidak ada
Ada
4
Persaingan
Tidak ada
Tidak ada
Ada
5
Kontravensi
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
6
Konflik
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
1)        Kerja sama
Adanya kerjasama antara kelompok elit dengan masyarakat. Seperti kelompok elit menjadi panutan sikap dan acuan tindakan, serta senantiasa berbuat nyata bagi kepentingan bersama. Lalu adanya kerjasama antara pemerintah, kelompok elit  dan masyarakat. Pemerintah sebagai penentu utama, kelompok elit pembuat keputusan, dan masyarakat membentuk organisasi sosial untuk menunjang implementasi  proyek pembangunan.

2)        Akomodasi
Kelompok elit lebih dominan mempengaruhi proses pengambilan keputusan dan masyarakat kurang begitu diperhitungkan. Secara tidak langsung adanya paksaan pengambilan keputusan oleh kelompok elit terhadap masyarakat. Berarti kelompok dengan kelompok.

3)        Asimilasi
Adanya proses interaksi dimana intelektualitas keagamaan, kewibawaan, dan kekayaan melilit dan menyatu membentuk kekuatan status bagi pemuka agama oleh kelompok pemuka agama satu dengan kelompok pemuka agama lainnya. Asimilasi -> A + B = C ,  banyak juga pemuka keagamaan yang tidak hanya beraktifitas pada keagamaan, tetapi juga pada politik.

4)        Persaingan
Berdasarkan yang tersirat pada bacaan, antar kelompok elit bersaing untuk mencapai kedudukan dan peranan yang tertinggi untuk pengambilan keputusan terhadap pelaksanaan proyek pembangunan desa. Hasil penelitian, pamong desa mendominasi dan pemuka agama terisolasi atau terkesampingkan.

5)      Kontravensi
Tidak ada unsur kontravensi yang terdapat pada bacaan. Ketiga kelompok elit sama-sama mengetahui penelitian tersebut serta tidak ada wujud manipulasi didalamnya.

6)        Konflik
Tidak ada konflik di bacaan. Tidak ada ancaman atau kekerasan antar tokoh.




Bacaan 2 :
No
Asosiatif / Disosiatif
Individu-Individu
Individu – Kelompok
Kelompok -Kelompok
1
Kerjasama
Tidak ada
Tidak ada
Ada
2
Akomodasi
Tidak ada
Tidak ada
Ada
3
Asimilasi
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
4
Persaingan
Tidak ada
Tidak ada
Ada
5
Kontravensi
Tidak ada
Ada
Ada
6
Konflik
Tidak ada
Tidak ada
Ada
1)        Kerjasama
Pada bacaan dikatakan menurut Tonny, warga setempat dengan kelompok orang luar sudah ada saling kerjasama dalam pembagian lahan TN Kutai. Ini merupakan salah satu kerjasama bertujuan kepentingan pribadi.

2)        Akomodasi
Ade Suroso beserta beberapa jagawana mengadakan pertemuan dengan beberapa tokoh masyarakat, mengajak untuk menjaga hutan dan memulai untuk bisa hidup berdampingan. Ini merupakan akomodasi sederhana untuk meredam pertikaian. Lalu juga pada pemindahan lokasi untuk konservasi ke kawasan  TN Kutai di Sangatta oleh masyarakat Teluk Pandan merupakan akomodasi paksaan antara masyarakat Teluk Pandan terrhadap kalangan pelajar, pramuka, pejabat, dan aparat keamanan.

3)        Asimilasi
Tidak ada asimilasi dalam bacaan, sehingga tidak teranalisis.

4)        Persaingan
Persaingan antara petugas-petugas jagawana (untuk menjaga dam mengkonservasi lahan hutan dan tidak menebangi pohon terus-menerus) dengan warga TN Kutai yang merambah lahan hutan untuk mencukupi kelangsungan hidup, pemukiman baru, dan lahan pencari kerja.

5)        Kontravensi
Antara individu dan kelompok terdapat pada Kepala Dusun Kandolo, Manap, mengatakan kepada para petugas jagawana dan kompas, umumnya warga mencari kayu untuk dijadikan arang. Tapi kompas menyaksikan bisa dihitung jari yang melakukan itu.  Justru aktifitas perkebunan rakyat besar-besaran yang ada. Ini berarti Munap telah berbohong dan menyembunyikan kebenaran yang ada. Kontravensi antara kelompok dengan kelompok yaitu antara petugas jagawana yang mengundang dan mengajak untuk menjaga hutan, warga-warga dalam mempertahankan, tetapi juga merambah bahkan memberikan informasi lahan. Pengkhianatan warga dalam terhadap para petugas jagawana.

6)        Konflik
Permusuhan (konflik) antara petugas jagawana dengan warga. Yaitu contohnya pada saat petugas jagawana mendatangi Kepala Desa Sangkimah untuk meluruskan persoalan temuan kayu oleh petugas justru dihadang puluhan massa, bahkan adanya ancaman kendaraan mobil petugas akan warga bakar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar