Hari, Tanggal : Senin, 23 September 2013 Nama : Siti Umamah Naili Muna
MK. Sosiologi Umum (KPM 130) NIM : G54130035
Asisten : Reza PN (G24100045)
STRUKTUR
INTERAKSI KELOMPOK ELIT DALAM PEMBANGUNAN
Penelitian di
Tiga Desa Santri
Oleh : Sunyoto Usman
Dalam sosiologi, elit merupakan suatu
kelompok kecil dalam masyarakat yang disegani, dihormati, kaya, berkuasa,
memiliki kemampuan mengendalikan aktifitas perekonomian dan sangat dominan
mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Kelompok elit sangat berpotensi sebagai
agen perubahan karena memegang fungsi sebagai jembatan yang
menghubungkan antara kemauan pemerintah dan kepentingan anggota masyarakat.
Pamong desa, petani kaya, dan pemuka
agama adalah contoh kelompok elit di pedesaan. Sedangkan kelompok mayoritas
yang dikuasai dan didominasi oleh elit disebut massa (masyarakat).
Dilakukan
suatu penelitian yang bertujuan mengidentifikasi struktur sosial elit dalam
mengakomodasi implementasi proyek pembangunan pedesaan. Penelitian tiga desa
santri di wilayah kabupaten Jombang, Jawa Timur berpusat pada tiga macam proyek
pembangunan, yaitu supra insus padi, Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI), dan
bantuan desa. Pendekatan yang digunakan untuk mengidentifikasi kelompok elit
yaitu positional approach untuk mencari individu-individu yang menempati posisi
penting dalam lembaga-lembaga sosial, reputational approach melalui wawancara
dengan informan-informan kunci untuk mengklasifikasi tokoh-tokoh yang menjadi
panutan dalam masyarakat, dan decisional approach dengan melihat penampilan
nyata tokoh-tokoh masyarakat dalam pengambilan keputusan.
Dengan
menggunakan tiga pendekatan tersebut, ditemukan 79 elit desa yang terbagi dalam
kelompok berikut : 37 pamong desa, 18 pemuka agama, dan 24 petani kaya. Untuk menghitung data dalam penelitian ini digunakan
program computer analisis jaringan yang dirancang oleh Robert Kyllberg (1986)
yang dapat menunjukkan tingkat jangkauan antar aktor (reachability), jarak
hubungan (part distance), dan jumlah klik-klik (cliques).
Satu
klik dikonsepsikan sebagai sekelompok kecil elit yang menjalin interaksi lebih
intensif dengan elit lain. Hasil penelitian tersebut mengemukakan bahwa
kelompok elit pamong desa lebih banyak menjalin interaksi dengan kelompok elit
lain dibandingkan dengan kelompok elit petani kaya dan pemuka agama. Ada
sejumlah kelompok elit pemuka agama yang terisolir. Kelompok elit pemuka agama
memiliki derajat integrasi yang lebih rendah karena mereka kurang menjalin
hubungan-hubungan tidak langsung (indirect links) dengan kawan-kawan
interaksinya (contactees). Dalam kaitannya dengan implementasi proyek
pembangunan, di ketiga desa tersebut hampir tidak terdapat homiphily atau
pengelompokan berdasarkan kategori elit. Pemuka agama terkesampingkan.
Dengan
demikian, kelompok elit pamong desa mendominasi proses pengambilan keputusan
terhadap pelaksanaan proyek pembangunan desa dibandingkan dengan pemuka agama
meskipun penelitian diselenggarakan di desa-desa santri.
TOLONG
BANTU PERBAIKI PERTANIAN KAMI
Oleh : Muhammad
Syaifullah
Ade Suharso, Kepala Seksi Konservasi
TN Kutai wilayah Tanjung Limau, bersama beberapa jagawana mengadakan pertemuan
dengan beberapa tokoh masyarakat di Kondolo untuk mengajak lestarikan hutan,
yang diikuti Kompas pertengahan September. Kepala Dusun Kandolo, Manap,
mengungkapkan bahwa warga-warga terpaksa membuka hutan untuk mempertahankan
hidup dengan membuat kayu arang yang harga sekarungnya Rp. 5.000,-. Hal ini
karena dua tahun terakhir sawah dilanda kekeringan dan serangan hama tikus.
“Kami minta agar ada penyuluhan pertanian membatu mengatasi keadaan ini agar
kami kembali ke sawah,” tuturnya. Andi Mappotolo, tokoh masyarakat kandolo,
mengatakan bahwa petugas hendaknya tidak melarang warga mencari kayu untuk buat
arang. Operasi chainsaw sebaiknya dilihat dulu agar tidak saling bermusuhan.
Tetapi
kenyataanya warga menolak keras ajakan petugas jagawana dan memberikan
perlawanan. Seperti mendapat ancaman mobil akan warga bakar ketika ingin
meluruskan persoalan temuan kayu dengan Kepala Desa Sangkimah. Lalu sampai
kegiatan penghijauan penanaman ribuan bibit buah-buahan oleh kalangan pelajar,
pramuka, pejabat, dan aparat kemanan yang dipimpin Tonny Suhartono di pindahkan
ke kawasan TN Kutai di Sangatta oleh masyarakat Teluk Pandan. Ade mengatakan
ini terjadi karena putusnya komunikasi kedua belah pihak. Kemiskinan karena
pemerintah minim memperhatikan mereka menjadi salah satu faktor kawasan tidak
dipertahankan.
Asumsi ternyata
salah. Sekarang yang sulit dikendalikan adalah masyarakat dalam yang tidak
tersentuh pembinaan. Orang luar sudah mulai bermukim di hutan. Tidak heran jika
puluhan ribu hektar terambah. Kompas menyaksikan, warga yang disebut-sebut
mencari kayu arang disepanjang jalan Botang-Sangatta bisa dihitung jari. Tampak
aktifitas perkebunan rakyat secara besar-besaran, maraknya penebangan dan
pengangkutan kayu-kayu ulin, pengkaplingan lahan dan penguasaan tanah. Tidak
hanya rakyat kecil, tetapi juga pemodal dari Sangatta dan Bontang, bahkan ada
oknum dari Balikpapan. Oknum Kepala Desa atau Dusun, serta Babinsa setempat
juga ikut membagi-bagi lahan. Diperkirakan bersamaan dengan adanya proyek
pengaspalan jalan Bontan-Sangatta dan pemasangan tiang listrik. Sasaran
kelompok masyarakat untuk mendapat ganti rugi. Ada beberapa kelompok masyarakat
pendatang ingin membeli lahan. Tersulit adalah masyarakat dalam yang sering
diundang untuk mencari jalan keluar ikut
mempertahankan lahan, tapi juga ikut membuka lahan hutan, tambah lagi menjadi sumber
informasi warganya untuk terus merambah.
Menurut Tonny,
warga setempat dengan orang luar sudah ada saling kerjasama dalam pembagian
lahan TN Kutai. Namun penegakkan hukumnya lemah. PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan
PT Badak NGL Co ikut memanfaatkan lahan ini. Menurut Direktur Yayasan Bina Kelola
Lingkungan, Adief Mulyadi, persoalan ini tidak bisa dilihat secara parsial.
Beban sejak awal tidak adanya sinkronisasi kebijakan soal hutan ini antara
pemerintah pusat, Pemda Kutai, dan Pemda Kaltim. Batasan wilayah-wilayah desa
yang tidak jelas di kawasan TN Kutai membuat hubungan antara jagawana dengan
warga menjadi ada jarak, bahkan tidak jarang saling terjadi berbenturan
kepentingan.
ANALISIS
Bacaan
1:
|
No
|
Asosiatif / Disosiatif
|
Individu-Individu
|
Individu - Kelompok
|
Kelompok -Kelompok
|
|
1
|
Kerjasama
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Ada
|
|
2
|
Akomodasi
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Ada
|
|
3
|
Asimilasi
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Ada
|
|
4
|
Persaingan
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Ada
|
|
5
|
Kontravensi
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
6
|
Konflik
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
1)
Kerja
sama
Adanya
kerjasama antara kelompok elit dengan masyarakat. Seperti kelompok elit menjadi
panutan sikap dan acuan tindakan, serta senantiasa berbuat nyata bagi
kepentingan bersama. Lalu adanya kerjasama antara pemerintah, kelompok
elit dan masyarakat. Pemerintah sebagai
penentu utama, kelompok elit pembuat keputusan, dan masyarakat membentuk
organisasi sosial untuk menunjang implementasi
proyek pembangunan.
2)
Akomodasi
Kelompok elit
lebih dominan mempengaruhi proses pengambilan keputusan dan masyarakat kurang
begitu diperhitungkan. Secara tidak langsung adanya paksaan pengambilan
keputusan oleh kelompok elit terhadap masyarakat. Berarti kelompok dengan
kelompok.
3)
Asimilasi
Adanya
proses interaksi dimana intelektualitas keagamaan, kewibawaan, dan kekayaan
melilit dan menyatu membentuk kekuatan status bagi pemuka agama oleh kelompok
pemuka agama satu dengan kelompok pemuka agama lainnya. Asimilasi -> A + B =
C , banyak juga pemuka keagamaan yang
tidak hanya beraktifitas pada keagamaan, tetapi juga pada politik.
4)
Persaingan
Berdasarkan
yang tersirat pada bacaan, antar kelompok elit bersaing untuk mencapai
kedudukan dan peranan yang tertinggi untuk pengambilan keputusan terhadap
pelaksanaan proyek pembangunan desa. Hasil penelitian, pamong desa mendominasi
dan pemuka agama terisolasi atau terkesampingkan.
5)
Kontravensi
Tidak ada unsur
kontravensi yang terdapat pada bacaan. Ketiga kelompok elit sama-sama
mengetahui penelitian tersebut serta tidak ada wujud manipulasi didalamnya.
6)
Konflik
Tidak
ada konflik di bacaan. Tidak ada ancaman atau kekerasan antar tokoh.
Bacaan
2 :
|
No
|
Asosiatif / Disosiatif
|
Individu-Individu
|
Individu – Kelompok
|
Kelompok -Kelompok
|
|
1
|
Kerjasama
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Ada
|
|
2
|
Akomodasi
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Ada
|
|
3
|
Asimilasi
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
4
|
Persaingan
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Ada
|
|
5
|
Kontravensi
|
Tidak ada
|
Ada
|
Ada
|
|
6
|
Konflik
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Ada
|
1)
Kerjasama
Pada bacaan
dikatakan menurut Tonny, warga setempat dengan kelompok orang luar sudah ada
saling kerjasama dalam pembagian lahan TN Kutai. Ini merupakan salah satu
kerjasama bertujuan kepentingan pribadi.
2)
Akomodasi
Ade Suroso
beserta beberapa jagawana mengadakan pertemuan dengan beberapa tokoh
masyarakat, mengajak untuk menjaga hutan dan memulai untuk bisa hidup
berdampingan. Ini merupakan akomodasi sederhana untuk meredam pertikaian. Lalu
juga pada pemindahan lokasi untuk konservasi ke kawasan TN Kutai di Sangatta oleh masyarakat Teluk
Pandan merupakan akomodasi paksaan antara masyarakat Teluk Pandan terrhadap
kalangan pelajar, pramuka, pejabat, dan aparat keamanan.
3)
Asimilasi
Tidak
ada asimilasi dalam bacaan, sehingga tidak teranalisis.
4)
Persaingan
Persaingan
antara petugas-petugas jagawana (untuk menjaga dam mengkonservasi lahan hutan
dan tidak menebangi pohon terus-menerus) dengan warga TN Kutai yang merambah
lahan hutan untuk mencukupi kelangsungan hidup, pemukiman baru, dan lahan
pencari kerja.
5)
Kontravensi
Antara individu
dan kelompok terdapat pada Kepala Dusun Kandolo, Manap, mengatakan kepada para
petugas jagawana dan kompas, umumnya warga mencari kayu untuk dijadikan arang.
Tapi kompas menyaksikan bisa dihitung jari yang melakukan itu. Justru aktifitas perkebunan rakyat
besar-besaran yang ada. Ini berarti Munap telah berbohong dan menyembunyikan
kebenaran yang ada. Kontravensi antara kelompok dengan kelompok yaitu antara
petugas jagawana yang mengundang dan mengajak untuk menjaga hutan, warga-warga
dalam mempertahankan, tetapi juga merambah bahkan memberikan informasi lahan.
Pengkhianatan warga dalam terhadap para petugas jagawana.
6)
Konflik
Permusuhan
(konflik) antara petugas jagawana dengan warga. Yaitu contohnya pada saat
petugas jagawana mendatangi Kepala Desa Sangkimah untuk meluruskan persoalan
temuan kayu oleh petugas justru dihadang puluhan massa, bahkan adanya ancaman
kendaraan mobil petugas akan warga bakar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar