Translate

Kamis, 31 Oktober 2013

OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK analisis ke 3 (IPB)


Hari, tanggal  : Senin, 7 Oktober 2013               Nama   :  Siti Umamah Naili Muna
MK. Sosiologi Umum (KPM 130)                    NIM     :  G54130035
                                                                         Asisten :  Reza PN (G24100045)

 

OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN
BUDAYA BATAK
Oleh : Arbain Rambey

            Parbato atau Pertungkoan Batak Toba adalah sebuah organisasi kesukuan yang berdiri pada bulan Agustus 1997. Parboto memasang iklan di surat kabar untuk mengajak masyarakat Batak Toba mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pasogit (sebutan untuk daerah tempat tinggal di Danau Toba dalam bahasa sub-etnis Batak Toba).
Ompu Monang Napitupulu yang memiliki arti “kakeknya” Monang Napitupulu adalah ketua Parbato sejak 1997. Nama aslinya Daniel Napitulu. Selain merupakan kebudayaan, nama barunya juga sebagai cara khas Batak Toba dalam kehangatan keluarga setelah punya cucu. “Cucu  adalah berkah dan rahmat  yang luar biasa”, kata Ompu Monang.
            Dalam budaya Batak, upacara perkawinan Batak Toba pada undangan tertera banyak pengundang dan hampir tiap orang merasa punya hubungan kekerabatan sangat dekat. Positifnya ada rasa tanggung jawab Paman pada pendidikan dan perawatan seorang anak. Sehingga tidak ada lagi orang Batak Toba yang buta huruf. Negatifnya, penghamburan uang dari waktu. Banyak acara keluarga yang bertele-tele. Seperti acara memberi nasehat.
            Lalu, acara pengulosan juga boros uang bahkan keluar dari maksud adat yang luhur, karena dijadikan ajang gengsi. Penyelewengan adat Batak Toba lainnya adalah persaingan antar keluarga dalam pembangunan makam Batak sampai ratusan juta per makam. Seminar dilakukan tapi tidak berhasil.
            Untuk mengatasi hal tersebut, Ompu Monang mengorbankan diri sendiri. Pesta perkawinan anak perempuannya Desember mendatang akan dilaksanakan dengan hal yang efisien namun tidak keluar dari adat Batak Toba. Dalam undangan hanya orang tua dan saudara kandung mempelai yang mengundang, nasehat hanya dari sebagian orang, dan juga hanya akan menerima beberapa kain ulos.














KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH DAN MODANG DEWASA INI
Inventarisasi Sebuah Proses Pemiskinan
Oleh : Franky Raden

            Daerah pemukiman suku Dayak kenyah dan Modang berada di wilayah Kecamatan Ancalong, Kabupaten Kutai dengan kota Tenggarong. Konon, berasal dari daerah pegunungan bernama Apokayan sebelah utara Kalimantan Timur. Daerah ini terisolir. Sebelumnya hidup dalam keutuhan bentuk kebudayaan dan sistem nilai aslinya. Setelah masuk misionaris Belanda membawa agama Kristiani tahun ‘30-an, membawa efek perpecahan karena adanya konflik antara yang pindah agama baru dengan yang tetap bersikeras memeluk kepercayaan lama.
            Awal proses pemiskinan kehidupan masyarakat Dayak adalah pemeluk agama baru meninggalkan daerah asalnya (memutuskan naluri alami kehidupan sehari-hari) tanpa punya gambaran masa depan sama sekali. Andalannya pada sektor ekonomi. Dilihat sepintas kehidupan sehari-hari berkecukupan. Rata-rata 200-400 bek padi per kepala keluarga. Ditambah kacang kedelai dapat dipetik 3 bulan sekali. Tapi disamping itu adanya kendala, transportasi ke kota susah sehingga hasil pertanian dilempar ke tengkulak yang tidak menguntungkan masyarakat Dayak tersebut, apalagi dengan taktik ijon dan barternya tengkulak. Hal ini membuat penduduk Dayak hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.
            Kebudayaan dan kesenian tidak lolos dari distorsi. Musnahnya inti dan sukma yang membangun seluruh struktur dan mekanisme kebudayaan, yaitu bangunan arsitektur panjang yang disebut Lamin. Kini Lamin menjadi bangunan megah yang mati karena setiap keluarga punya rumah sendiri-sendiri. Kesenian yang tidak bisa dilepaskan dari konteks gerak kehidupan sehari-hari, kini tidak lagi. Barang teknologi modern seperti kaset membunuh bentuk-bentuk musik penduduk Dayak. Selain itu juga hilangnya dimensi religius yang kental seperti biasanya mendapat kesempatan mengalami kembali kondisi ruang dan waktu yang sakral melalui aktus estetik. Dimensi nilai-nilai sosial juga hilang.
Pendidikan informal sudah nyaris hilang tergilas orientasi sistem nilai kebudayaan kota. Faktor terjahat dalam kehidupan masyarakat Dayak adalah muncul penguasa hutan (pemilik HPH) mendadak mengunci hutan untuk daerah perladangan yang merupakan sumber kehidupan. Dalam berladang lahir kebudayaan, kesenian, adat, sistem nilai kepercayaan, sosialistis, kebersamaan, dan lain-lain sebagai roda-roda kehidupan yang mengarahkan satu sama lain. Jelas sekali, proses pemiskinan yang dialami adalah secara keseluruhan di tiap sisi kehidupan. Jatuhnya ekonomi karena masuknya barang-barang jam tangan, mesin jahit, dan lain-lain. Ekstrimnya yang terjadi pada masyarakat Dayak ini yaitu pemusnahan eksistensi sekelompok manusia dalam dimensi masalah kultural. Pemiskinan suatu kualitas dan ruang gerak kehidupan.







ANALISIS

Bacaan 1 :

No
Unsur
Idiil
Aktifitas
Fisik
1
Bahasa
Tata cara berbahasa
Berbicara ceplas-ceplos dan keras
Logat suku Batak Toba
Menyebut Kakek dengan Ompu dan daerah tempat tinggal dengan lingkungan Bona Pasogit
Bahasa sub-etnis Batak Toba
2
Sistem teknologi
Memudahkan aktifitas produksi
Membuat kain ulos
mesin pembuat kain  ulos
3
Sistem ekonomi
Pemborosan dan komersialisme
Memberikan, mengumpulkan, dan memerjualbelikan kain ulos. Membangun makam Batak
Ratusan kain ulos dan makam-makam Batak seharga ratusan juta rupiah
4
Organisasi sosial
Mempertahankan suku, daerah dan tradisi Batak Toba
Menyelenggarakan seminar, memasang iklan persuasi, menerapkan upacara tradisi Batak pada perkawinan anak Ompu Monang
Parboto (organisasi kesukuan), cetakan hasil seminar, iklan persuasif di surat kabar, upacara perkawinan adat Batak
5
Sistem pengetahaun
Sadar pendidikan (kerjasama)
Menyekolahkan, merawat dan menampung sanak saudara.
Dokter terbanyak dari Batak, dan hampir tidak ada orang yang buta huruf
6
Kesenian
Budaya kekerabatan dan kehangatan keluarga
Pengulosan, bernyanyi, membuat kain ulos dengan alat manual
Kain ulos dan tenunan tangan.
7
Sistem religi
Tidak teranalisis
Tidak teranalisis
Tidak teranalisis







Bacaan 2 :

No.
Unsur
Idiil
Aktifitas
Fisik
1
Bahasa
Komunikasi
Orang tua menceritakan nostalgia para tetua kepada yang lebih muda
Pantun dan cerita-cerita histori
2
Sistem teknologi
Efisensi dalam bekerja
Menggunakan alat dalam memanen padi
Mesin penggiling padi
Berorientasi pada kota
Menggunakan barang-barang modern dari kota
Radio, kaset, jam tangan, sepatu, mesin jahit.
3
Sistem ekonomi
Pemenuhan kelangsungan hidup
Berladang dan bertani
Uang, pasar dan barang
Pola konsumptif
Membeli dan memasukkan barang dari kota ke Dayak
Jam tangan, radio, dll.
4
Organisasi sosial
Penguasa hutan
Menutup lahan untuk daerah perladangan
Pengusaha HPH
5
Sistem pengetahaun
Pendidikan formal dan informal
menyekolahkan anaknya di kota.
sekolah
6
Kesenian
Menurunnya nilai kesenian
Masyarakat Dayak meninggalkan kesenian karena mengejar kemodernan
Lamin, musik tradisional, dan peralatan modern (seperti kaset)
7
Sistem religi
Kepercayaan agama
Beribadah menurut agama masing-masing
Tempat upacara dan tempat ibadah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar