Hari, tanggal : Senin, 7 Oktober 2013 Nama : Siti Umamah Naili Muna
MK. Sosiologi Umum (KPM 130) NIM : G54130035
Asisten : Reza PN (G24100045)
OMPU MONANG NAPITUPULU
INGIN SEDERHANAKAN
BUDAYA BATAK
Oleh : Arbain
Rambey
Parbato atau Pertungkoan Batak
Toba adalah sebuah organisasi kesukuan yang berdiri pada bulan Agustus 1997.
Parboto memasang iklan di surat kabar untuk mengajak masyarakat Batak Toba
mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pasogit (sebutan untuk daerah
tempat tinggal di Danau Toba dalam bahasa sub-etnis Batak Toba).
Ompu Monang Napitupulu yang memiliki
arti “kakeknya” Monang Napitupulu adalah ketua Parbato sejak 1997. Nama aslinya
Daniel Napitulu. Selain merupakan kebudayaan, nama barunya juga sebagai cara
khas Batak Toba dalam kehangatan keluarga setelah punya cucu. “Cucu adalah berkah dan rahmat yang luar biasa”, kata Ompu Monang.
Dalam budaya Batak, upacara
perkawinan Batak Toba pada undangan tertera banyak pengundang dan hampir tiap
orang merasa punya hubungan kekerabatan sangat dekat. Positifnya ada rasa
tanggung jawab Paman pada pendidikan dan perawatan seorang anak. Sehingga tidak
ada lagi orang Batak Toba yang buta huruf. Negatifnya, penghamburan uang dari
waktu. Banyak acara keluarga yang bertele-tele. Seperti acara memberi nasehat.
Lalu, acara pengulosan juga boros
uang bahkan keluar dari maksud adat yang luhur, karena dijadikan ajang gengsi. Penyelewengan
adat Batak Toba lainnya adalah persaingan antar keluarga dalam pembangunan
makam Batak sampai ratusan juta per makam. Seminar dilakukan tapi tidak
berhasil.
Untuk mengatasi hal tersebut, Ompu
Monang mengorbankan diri sendiri. Pesta perkawinan anak perempuannya Desember
mendatang akan dilaksanakan dengan hal yang efisien namun tidak keluar dari
adat Batak Toba. Dalam undangan hanya orang tua dan saudara kandung mempelai
yang mengundang, nasehat hanya dari sebagian orang, dan juga hanya akan
menerima beberapa kain ulos.
KEHIDUPAN SUKU
DAYAK KENYAH DAN MODANG DEWASA INI
Inventarisasi
Sebuah Proses Pemiskinan
Oleh : Franky
Raden
Daerah pemukiman suku Dayak kenyah
dan Modang berada di wilayah Kecamatan Ancalong, Kabupaten Kutai dengan kota
Tenggarong. Konon, berasal dari daerah pegunungan bernama Apokayan sebelah
utara Kalimantan Timur. Daerah ini terisolir. Sebelumnya hidup dalam keutuhan
bentuk kebudayaan dan sistem nilai aslinya. Setelah masuk misionaris Belanda
membawa agama Kristiani tahun ‘30-an, membawa efek perpecahan karena adanya konflik
antara yang pindah agama baru dengan yang tetap bersikeras memeluk kepercayaan
lama.
Awal proses pemiskinan kehidupan
masyarakat Dayak adalah pemeluk agama baru meninggalkan daerah asalnya
(memutuskan naluri alami kehidupan sehari-hari) tanpa punya gambaran masa depan
sama sekali. Andalannya pada sektor ekonomi. Dilihat sepintas kehidupan
sehari-hari berkecukupan. Rata-rata 200-400 bek padi per kepala keluarga. Ditambah
kacang kedelai dapat dipetik 3 bulan sekali. Tapi disamping itu adanya kendala,
transportasi ke kota susah sehingga hasil pertanian dilempar ke tengkulak yang
tidak menguntungkan masyarakat Dayak tersebut, apalagi dengan taktik ijon dan
barternya tengkulak. Hal ini membuat penduduk Dayak hanya cukup memenuhi
kebutuhan sehari-hari.
Kebudayaan dan kesenian tidak lolos
dari distorsi. Musnahnya inti dan sukma yang membangun seluruh struktur dan
mekanisme kebudayaan, yaitu bangunan arsitektur panjang yang disebut Lamin. Kini Lamin menjadi bangunan megah yang mati karena setiap keluarga punya
rumah sendiri-sendiri. Kesenian yang tidak bisa dilepaskan dari konteks gerak
kehidupan sehari-hari, kini tidak lagi. Barang teknologi modern seperti kaset
membunuh bentuk-bentuk musik penduduk Dayak. Selain itu juga hilangnya dimensi
religius yang kental seperti biasanya mendapat kesempatan mengalami kembali
kondisi ruang dan waktu yang sakral melalui aktus estetik. Dimensi nilai-nilai
sosial juga hilang.
Pendidikan informal sudah nyaris hilang
tergilas orientasi sistem nilai kebudayaan kota. Faktor terjahat dalam kehidupan
masyarakat Dayak adalah muncul penguasa hutan (pemilik HPH) mendadak mengunci
hutan untuk daerah perladangan yang merupakan sumber kehidupan. Dalam berladang
lahir kebudayaan, kesenian, adat, sistem nilai kepercayaan, sosialistis,
kebersamaan, dan lain-lain sebagai roda-roda kehidupan yang mengarahkan satu
sama lain. Jelas sekali, proses pemiskinan yang dialami adalah secara
keseluruhan di tiap sisi kehidupan. Jatuhnya ekonomi karena masuknya
barang-barang jam tangan, mesin jahit, dan lain-lain. Ekstrimnya yang terjadi
pada masyarakat Dayak ini yaitu pemusnahan eksistensi sekelompok manusia dalam
dimensi masalah kultural. Pemiskinan suatu kualitas dan ruang gerak kehidupan.
ANALISIS
Bacaan
1 :
|
No
|
Unsur
|
Idiil
|
Aktifitas
|
Fisik
|
|
1
|
Bahasa
|
Tata
cara berbahasa
|
Berbicara
ceplas-ceplos dan keras
|
Logat
suku Batak Toba
|
|
Menyebut
Kakek dengan Ompu dan daerah tempat tinggal dengan lingkungan Bona Pasogit
|
Bahasa
sub-etnis Batak Toba
|
|||
|
2
|
Sistem
teknologi
|
Memudahkan
aktifitas produksi
|
Membuat
kain ulos
|
mesin
pembuat kain ulos
|
|
3
|
Sistem
ekonomi
|
Pemborosan
dan komersialisme
|
Memberikan,
mengumpulkan, dan memerjualbelikan kain ulos. Membangun makam Batak
|
Ratusan
kain ulos dan makam-makam Batak seharga ratusan juta rupiah
|
|
4
|
Organisasi
sosial
|
Mempertahankan
suku, daerah dan tradisi Batak Toba
|
Menyelenggarakan
seminar, memasang iklan persuasi, menerapkan upacara tradisi Batak pada perkawinan
anak Ompu Monang
|
Parboto
(organisasi kesukuan), cetakan hasil seminar, iklan persuasif di surat kabar,
upacara perkawinan adat Batak
|
|
5
|
Sistem
pengetahaun
|
Sadar
pendidikan (kerjasama)
|
Menyekolahkan,
merawat dan menampung sanak saudara.
|
Dokter
terbanyak dari Batak, dan hampir tidak ada orang yang buta huruf
|
|
6
|
Kesenian
|
Budaya
kekerabatan dan kehangatan keluarga
|
Pengulosan,
bernyanyi, membuat kain ulos dengan alat manual
|
Kain
ulos dan tenunan tangan.
|
|
7
|
Sistem
religi
|
Tidak
teranalisis
|
Tidak
teranalisis
|
Tidak
teranalisis
|
Bacaan
2 :
|
No.
|
Unsur
|
Idiil
|
Aktifitas
|
Fisik
|
|
1
|
Bahasa
|
Komunikasi
|
Orang
tua menceritakan nostalgia para tetua kepada yang lebih muda
|
Pantun
dan cerita-cerita histori
|
|
2
|
Sistem
teknologi
|
Efisensi
dalam bekerja
|
Menggunakan
alat dalam memanen padi
|
Mesin
penggiling padi
|
|
Berorientasi
pada kota
|
Menggunakan
barang-barang modern dari kota
|
Radio,
kaset, jam tangan, sepatu, mesin jahit.
|
||
|
3
|
Sistem
ekonomi
|
Pemenuhan
kelangsungan hidup
|
Berladang
dan bertani
|
Uang,
pasar dan barang
|
|
Pola
konsumptif
|
Membeli
dan memasukkan barang dari kota ke Dayak
|
Jam
tangan, radio, dll.
|
||
|
4
|
Organisasi
sosial
|
Penguasa
hutan
|
Menutup
lahan untuk daerah perladangan
|
Pengusaha
HPH
|
|
5
|
Sistem
pengetahaun
|
Pendidikan
formal dan informal
|
menyekolahkan
anaknya di kota.
|
sekolah
|
|
6
|
Kesenian
|
Menurunnya
nilai kesenian
|
Masyarakat
Dayak meninggalkan kesenian karena mengejar kemodernan
|
Lamin,
musik tradisional, dan peralatan modern (seperti kaset)
|
|
7
|
Sistem
religi
|
Kepercayaan
agama
|
Beribadah
menurut agama masing-masing
|
Tempat
upacara dan tempat ibadah
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar